Langsung ke konten utama

When (Malang, 12 Oktober 2002)

Ketika kegelapan berulah
Senyap menyusupi celah-celah hati
Menggores-menggaris
Ada perih di sana
Sedih?

Aku tak ingin mengakui

Hamparan deru angin senja makin lebar dan lapang
Seperti aku bisa mendengar dan mengerti auman troposfer

Gerimis pecah
Seperti kaca berhamburan
Berkecipak di antara cipratan air mata 
dan gelenyar kecewa

Aroma lumpur dan sedap malam naik meraupi mataku
Kembang sepatu di belakang telingaku rontok 
-----
sesobek dan sesobek

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap