Langsung ke konten utama

Brown (Malang, 13 Februari 2006)

Karib yang ba’idku...
Di suatu ketika
Kala aku benar-benar gelap dan sendiri
Di saat aku mempertanyakan Tuhan
Di saat aku ditolak dunia:
bahkan tembok pun membenciku...
Di saat déwala membeton ----- berdemarkasi
antara aku dan orang-orang yang berlarian di sekitarku,
selalu.
Di saat aku masih selalu merasa asing
di tengah sahabat yang mengitariku
Saat aku merasa duri-duri enfer mengikat leherku
dan cambuk-cambuk api mengejekku
Saat nanah keluar dari mataku setiap harinya...

You!
Kamu datang memanggul ufuk baru
bersama bagaskaranya
dan senampan bintang-bintang.
Memperkenalkanku pada alam
dan cerita di luar pintu kamarku
Kamu begitu berarti
Hingga aku ingin jatuh cinta kepadamu
Tapi aku tak bisa

Di antara berbuntal kisah manis masa lalu,
ada kamu di sana
You were my brother, 
still and always

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap