Langsung ke konten utama

Melo (Malang, 06 Oktober 2002)

Ketika itu senja hampir surup
Ada goresan-goresan membelah udara di atas sana
Ketika itu hampir tak bersuara
Ketika itu teriakan-teriakan dalam kepala hampir marak
Jangan... jangan tumpahkan lagi air mata
Meski oranye langit tak akan ada lagi
Meski gerimis tak lagi senyap dan indah
Meski es perlahan menutupi hatimu
Akan kuiringi tenggelamnya masa dengan mata yang binar
dengan mata yang cahaya
Biar sesak itu makin meremukkan kita
Lihatlah!
Jejak-jejak makin hilang
Saat menoleh ke belakang kau akan tahu
kita sudah bukan kita

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap