Langsung ke konten utama

Melo (Malang, 06 Oktober 2002)

Ketika itu senja hampir surup
Ada goresan-goresan membelah udara di atas sana
Ketika itu hampir tak bersuara
Ketika itu teriakan-teriakan dalam kepala hampir marak
Jangan... jangan tumpahkan lagi air mata
Meski oranye langit tak akan ada lagi
Meski gerimis tak lagi senyap dan indah
Meski es perlahan menutupi hatimu
Akan kuiringi tenggelamnya masa dengan mata yang binar
dengan mata yang cahaya
Biar sesak itu makin meremukkan kita
Lihatlah!
Jejak-jejak makin hilang
Saat menoleh ke belakang kau akan tahu
kita sudah bukan kita

Postingan populer dari blog ini

/Legit Locus (Malang, 05 Sept 2022)

What a legit locus Sweet man Kontur yang seperti bolu Husky smile Bungee hair: berayun di balik daun-daun yang membatik Seperti facade dalam lukisan barok; interface nan bullet time The way he tucks  a few strands of it behind his ear: My logic breaks into pieces The way he strokes it down: draped that mane-looks-alike over his shoulder and chest - femalish My wit breaks into flakes Memiliki kaki-kaki penari tribal Jawa yang putih Telapak quaint  Satu brittle creature Mematerialize Arjuna - feminine Love at the first sight? Tidak. Anehnya tidak This one, constructed love cubic by cubic nicotine by nicotine song by song lyric by lyric poem by poem @murdhasiwi

Bakar (Malang, 2005)

Membakar Langit seperti terbakar Cakrawala membujur dan melintang Kepalaku sakit sekali Penuh dengan ingatan-ingatan Rumput yang ranggas Menyelusup hati Ingin kurobek wajah-wajah Seperti iklan obat pusing Semua berputar Semua bertabrakan Semua saling tumbuk Aku nggak ngerti Benar-benar nggak ngerti