Langsung ke konten utama

/Memetik Angin (Malang, Mei 2001)

Sobat
Bagaimana?
Mari kita minum kopi bersama
Dan kunyah roti terakhir
Sambil menatap bulan
yang mengapung 
di lengkungan langit Latar Ombo
Berharap ia akan jatuh menimpa
Tawamu keras sekali, Sobat
Jangan bikin aku jadi sedih

Banyak kegilaan yang aku temu bersamamu
Kamu orang pertama yang tahu
dan paham apa mauku
Dan atas ketidakseimbanganku
Karena kau sama weird-nya denganku
Sama tengiknya
Bahkan lebih

Aku bangga telah mengenalmu

Tawamu makin keras, Sobat
Kau bikin aku makin sedih

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap