Langsung ke konten utama

/Memetik Angin (Malang, Mei 2001)

Sobat
Bagaimana?
Mari kita minum kopi bersama
Dan kunyah roti terakhir
Sambil menatap bulan
yang mengapung 
di lengkungan langit Latar Ombo
Berharap ia akan jatuh menimpa
Tawamu keras sekali, Sobat
Jangan bikin aku jadi sedih

Banyak kegilaan yang aku temu bersamamu
Kamu orang pertama yang tahu
dan paham apa mauku
Dan atas ketidakseimbanganku
Karena kau sama weird-nya denganku
Sama tengiknya
Bahkan lebih

Aku bangga telah mengenalmu

Tawamu makin keras, Sobat
Kau bikin aku makin sedih

Postingan populer dari blog ini

/Legit Locus (Malang, 05 Sept 2022)

What a legit locus Sweet man Kontur yang seperti bolu Husky smile Bungee hair: berayun di balik daun-daun yang membatik Seperti facade dalam lukisan barok; interface nan bullet time The way he tucks  a few strands of it behind his ear: My logic breaks into pieces The way he strokes it down: draped that mane-looks-alike over his shoulder and chest - femalish My wit breaks into flakes Memiliki kaki-kaki penari tribal Jawa yang putih Telapak quaint  Satu brittle creature Mematerialize Arjuna - feminine Love at the first sight? Tidak. Anehnya tidak This one, constructed love cubic by cubic nicotine by nicotine song by song lyric by lyric poem by poem @murdhasiwi

Bakar (Malang, 2005)

Membakar Langit seperti terbakar Cakrawala membujur dan melintang Kepalaku sakit sekali Penuh dengan ingatan-ingatan Rumput yang ranggas Menyelusup hati Ingin kurobek wajah-wajah Seperti iklan obat pusing Semua berputar Semua bertabrakan Semua saling tumbuk Aku nggak ngerti Benar-benar nggak ngerti