Langsung ke konten utama

Insensible (Malang, Lewat Tengah Malam, 14 Juni 2002)

Lagi-lagi
aku 
tak tahu harus menulis
lagi
sepat
Bintang dan malam yang getir
Aku kangen
pada gejolak hati
Apa esensi dari semua ini?
Cokelat,
merah,
dan terbakar
Hatiku hampir mati
Jadi abu
Jadi arang
Semakin pekat
Titik-titik-titik
Oh pagi
Mana lamunanmu?
Karang-karang dan cadas
Sepi
Tanpa luka
Bersih

Postingan populer dari blog ini

/Legit Locus (Malang, 05 Sept 2022)

What a legit locus Sweet man Kontur yang seperti bolu Husky smile Bungee hair: berayun di balik daun-daun yang membatik Seperti facade dalam lukisan barok; interface nan bullet time The way he tucks  a few strands of it behind his ear: My logic breaks into pieces The way he strokes it down: draped that mane-looks-alike over his shoulder and chest - femalish My wit breaks into flakes Memiliki kaki-kaki penari tribal Jawa yang putih Telapak quaint  Satu brittle creature Mematerialize Arjuna - feminine Love at the first sight? Tidak. Anehnya tidak This one, constructed love cubic by cubic nicotine by nicotine song by song lyric by lyric poem by poem @murdhasiwi

Bakar (Malang, 2005)

Membakar Langit seperti terbakar Cakrawala membujur dan melintang Kepalaku sakit sekali Penuh dengan ingatan-ingatan Rumput yang ranggas Menyelusup hati Ingin kurobek wajah-wajah Seperti iklan obat pusing Semua berputar Semua bertabrakan Semua saling tumbuk Aku nggak ngerti Benar-benar nggak ngerti