Langsung ke konten utama

Liung (Malang, 2005)

Desember kemarin
Aku ketemu kamu
Masih seperti dulu saja:
Dengan federalmu
Blue jasmu
Kaus kaki
Dan sepatu bututmu
Rambutmu lebih panjang
Kulitmu lebih legam

Masih seperti dulu saja:
Dengan gelora juangmu
Islamismu
Jawamu
Sosialismemu

Kamu bilang,
"Kita terakhir ketemu setahun lalu,"
Iya.
Waktu itu
di depan rumah
kita ngobrol sampai malam.
Aku tertegun
Ternyata sudah setahun?

Aku pun masih ingat
Suatu siang di teras kampus
Kita bersalaman
Kamu bilang,
"Sampai jumpa di Senayan,"

Ternyata
Itu hanya cita masa lalu

Ada yang bercabang di otakku,
kini.
Nilai-nilai yang kupercaya setengah mati dulu kala...
semakin tak nyata

Aku punya nilai baru
Akarku sendiri
Aku akan jadi pendo'a saja
Aku akan beregois

Ada banyak keindahan
yang meminta peduliku

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap