Langsung ke konten utama

Kembang Sirih (Malang, Juli 2003/ Desember 2004)

1)
Sore itu
usai terik menyemai atmosfer Nusantara
Di parit abad Kemangi ----- 
bocah bego dengan rambut amis
termangu
Hatinya yang kalap makin gosong

Berhari lalu
Usai talam jadah tersuguh
dalam kubangan merah-putih:
Ada bibir berkretek
Ada wajah penuh rajah tato 
"People Power"
----- Prajurit rakyat budak negara -----

Kemangi mendem.
Barangkali inilah barisan malaikat 
pemilik sayap-sayap kebenaran,
itu
Dalam linglung
seperti gema:
"Benar. Merekalah hakim-hakim 
dan penyelamat bangsamu."
Kemangi menggigit jempol dan bersumpah setia

2)
Sekejap berlari
Kian nyata busuknya makin merebak
Mereka hanyalah manusia biasa berhati hitam!

Postingan populer dari blog ini

/Legit Locus (Malang, 05 Sept 2022)

What a legit locus Sweet man Kontur yang seperti bolu Husky smile Bungee hair: berayun di balik daun-daun yang membatik Seperti facade dalam lukisan barok; interface nan bullet time The way he tucks  a few strands of it behind his ear: My logic breaks into pieces The way he strokes it down: draped that mane-looks-alike over his shoulder and chest - femalish My wit breaks into flakes Memiliki kaki-kaki penari tribal Jawa yang putih Telapak quaint  Satu brittle creature Mematerialize Arjuna - feminine Love at the first sight? Tidak. Anehnya tidak This one, constructed love cubic by cubic nicotine by nicotine song by song lyric by lyric poem by poem @murdhasiwi

Bakar (Malang, 2005)

Membakar Langit seperti terbakar Cakrawala membujur dan melintang Kepalaku sakit sekali Penuh dengan ingatan-ingatan Rumput yang ranggas Menyelusup hati Ingin kurobek wajah-wajah Seperti iklan obat pusing Semua berputar Semua bertabrakan Semua saling tumbuk Aku nggak ngerti Benar-benar nggak ngerti