Langsung ke konten utama

Malang, 12/ 18 April 2011

Hujan mendadak
Aku termangu saja

Rebah sejenak

Dalam redup kamar jelang senja
kutiupi seruling
Melantunkan melo melodia evergreen

Sedang tidak ingin bercanda

Gibran,
suap aku dengan selembar saja api birumu

Sedang haus darah
Tenggorokanku kering
Merasa marah

Aku lapar dan beringas

Kaki-kakiku yang pendek tapi indah
ke mana sajakah kita kan menuju hari ini?

Romantis yang realistis

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap