Langsung ke konten utama

Malang, 12/ 18 April 2011

Hujan mendadak
Aku termangu saja

Rebah sejenak

Dalam redup kamar jelang senja
kutiupi seruling
Melantunkan melo melodia evergreen

Sedang tidak ingin bercanda

Gibran,
suap aku dengan selembar saja api birumu

Sedang haus darah
Tenggorokanku kering
Merasa marah

Aku lapar dan beringas

Kaki-kakiku yang pendek tapi indah
ke mana sajakah kita kan menuju hari ini?

Romantis yang realistis

Postingan populer dari blog ini

/Legit Locus (Malang, 05 Sept 2022)

What a legit locus Sweet man Kontur yang seperti bolu Husky smile Bungee hair: berayun di balik daun-daun yang membatik Seperti facade dalam lukisan barok; interface nan bullet time The way he tucks  a few strands of it behind his ear: My logic breaks into pieces The way he strokes it down: draped that mane-looks-alike over his shoulder and chest - femalish My wit breaks into flakes Memiliki kaki-kaki penari tribal Jawa yang putih Telapak quaint  Satu brittle creature Mematerialize Arjuna - feminine Love at the first sight? Tidak. Anehnya tidak This one, constructed love cubic by cubic nicotine by nicotine song by song lyric by lyric poem by poem @murdhasiwi

Bakar (Malang, 2005)

Membakar Langit seperti terbakar Cakrawala membujur dan melintang Kepalaku sakit sekali Penuh dengan ingatan-ingatan Rumput yang ranggas Menyelusup hati Ingin kurobek wajah-wajah Seperti iklan obat pusing Semua berputar Semua bertabrakan Semua saling tumbuk Aku nggak ngerti Benar-benar nggak ngerti