Langsung ke konten utama

Tentang Beverly Barton dan Teman-temannya (Malang, lupa tahun)

Ada hari-hari ketika perpustakaan kota menjadi begitu payah. Itu adalah hari ketika buku-buku bagus sudah habis dipinjam. Dan kemarin adalah salah satu dari hari itu. Jadilah aku meminjam Beverly Barton! Padahal aku asli eneg dengan cerita-cerita pembunuh-berantai-psiko yang so... typically Amrik.

Lha koen wingi kok tertarik pinjem Dead Sleep Gun?
Beda... beda... Greg Iles tetap ada taste-nya (walaupun aku merasa tak merasakan apa-apa membacanya).

Di In The Miso Soup, ada adegan saat TV memberitakan soal analisa rumit dari seorang pakar tentang korban pembunuhan. Pakar itu bilang, mata si korban ditusuk karena si pembunuh tak mau si korban melihat perbuatannya saat menyiksa. Nah, pacar Kenji (si tokoh utama) mengomentari analisa itu dan berkata kalau bisa saja si pembunuh menusuk mata bukan karena segala tetek bengek itu, melainkan... ya karena ingin menusuk saja. Mengerti kan? Se-simple itu. Itulah yang kurasakan saat membaca Barton, Lisa Jackson, Karen Rose, etc. Mereka terlalu merumitkan hal yang sederhana sampai jadi tidak masuk akal. Seolah-olah mereka menulis hanya sekadar menyalurkan impuls sado-maso yang ada di diri mereka saja. 
Tidak secerdas Deaver, Frank Tallis, Patterson bahkan Higgins Clark!

Lantas bagaimana dengan Mo Hayder?***

Postingan populer dari blog ini

/Legit Locus (Malang, 05 Sept 2022)

What a legit locus Sweet man Kontur yang seperti bolu Husky smile Bungee hair: berayun di balik daun-daun yang membatik Seperti facade dalam lukisan barok; interface nan bullet time The way he tucks  a few strands of it behind his ear: My logic breaks into pieces The way he strokes it down: draped that mane-looks-alike over his shoulder and chest - femalish My wit breaks into flakes Memiliki kaki-kaki penari tribal Jawa yang putih Telapak quaint  Satu brittle creature Mematerialize Arjuna - feminine Love at the first sight? Tidak. Anehnya tidak This one, constructed love cubic by cubic nicotine by nicotine song by song lyric by lyric poem by poem @murdhasiwi

Bakar (Malang, 2005)

Membakar Langit seperti terbakar Cakrawala membujur dan melintang Kepalaku sakit sekali Penuh dengan ingatan-ingatan Rumput yang ranggas Menyelusup hati Ingin kurobek wajah-wajah Seperti iklan obat pusing Semua berputar Semua bertabrakan Semua saling tumbuk Aku nggak ngerti Benar-benar nggak ngerti