Langsung ke konten utama

Tentang Beverly Barton dan Teman-temannya (Malang, lupa tahun)

Ada hari-hari ketika perpustakaan kota menjadi begitu payah. Itu adalah hari ketika buku-buku bagus sudah habis dipinjam. Dan kemarin adalah salah satu dari hari itu. Jadilah aku meminjam Beverly Barton! Padahal aku asli eneg dengan cerita-cerita pembunuh-berantai-psiko yang so... typically Amrik.

Lha koen wingi kok tertarik pinjem Dead Sleep Gun?
Beda... beda... Greg Iles tetap ada taste-nya (walaupun aku merasa tak merasakan apa-apa membacanya).

Di In The Miso Soup, ada adegan saat TV memberitakan soal analisa rumit dari seorang pakar tentang korban pembunuhan. Pakar itu bilang, mata si korban ditusuk karena si pembunuh tak mau si korban melihat perbuatannya saat menyiksa. Nah, pacar Kenji (si tokoh utama) mengomentari analisa itu dan berkata kalau bisa saja si pembunuh menusuk mata bukan karena segala tetek bengek itu, melainkan... ya karena ingin menusuk saja. Mengerti kan? Se-simple itu. Itulah yang kurasakan saat membaca Barton, Lisa Jackson, Karen Rose, etc. Mereka terlalu merumitkan hal yang sederhana sampai jadi tidak masuk akal. Seolah-olah mereka menulis hanya sekadar menyalurkan impuls sado-maso yang ada di diri mereka saja. 
Tidak secerdas Deaver, Frank Tallis, Patterson bahkan Higgins Clark!

Lantas bagaimana dengan Mo Hayder?***

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap