Langsung ke konten utama

Cabar (Malang, Akhir 2008)

Dia wajah tanpa warna
Dia bayangan tanpa raga
Dia patung kayu

Darah mendesak-desak dalam tubuh -----
ingin menghambur.
Akan bahagia bila bisa
Mencoba menulis kaligrafi dengan lubang nadi
Ada awan hitam di atas kepala
Ada hujan mengguyur punggung
Ada pelangi hitam tempat terbuai

Denting mangkuk menenggelamkan
Ada bara dalam dada -----
siap menelan.

Dia benci
Dia mengutuki dini hari
Mengutuki hari-hari pertama
Bersujud di menit dia mati
Menyesal melihat dunia

Postingan populer dari blog ini

/Legit Locus (Malang, 05 Sept 2022)

What a legit locus Sweet man Kontur yang seperti bolu Husky smile Bungee hair: berayun di balik daun-daun yang membatik Seperti facade dalam lukisan barok; interface nan bullet time The way he tucks  a few strands of it behind his ear: My logic breaks into pieces The way he strokes it down: draped that mane-looks-alike over his shoulder and chest - femalish My wit breaks into flakes Memiliki kaki-kaki penari tribal Jawa yang putih Telapak quaint  Satu brittle creature Mematerialize Arjuna - feminine Love at the first sight? Tidak. Anehnya tidak This one, constructed love cubic by cubic nicotine by nicotine song by song lyric by lyric poem by poem @murdhasiwi

Bakar (Malang, 2005)

Membakar Langit seperti terbakar Cakrawala membujur dan melintang Kepalaku sakit sekali Penuh dengan ingatan-ingatan Rumput yang ranggas Menyelusup hati Ingin kurobek wajah-wajah Seperti iklan obat pusing Semua berputar Semua bertabrakan Semua saling tumbuk Aku nggak ngerti Benar-benar nggak ngerti