Langsung ke konten utama

Cabar (Malang, Akhir 2008)

Dia wajah tanpa warna
Dia bayangan tanpa raga
Dia patung kayu

Darah mendesak-desak dalam tubuh -----
ingin menghambur.
Akan bahagia bila bisa
Mencoba menulis kaligrafi dengan lubang nadi
Ada awan hitam di atas kepala
Ada hujan mengguyur punggung
Ada pelangi hitam tempat terbuai

Denting mangkuk menenggelamkan
Ada bara dalam dada -----
siap menelan.

Dia benci
Dia mengutuki dini hari
Mengutuki hari-hari pertama
Bersujud di menit dia mati
Menyesal melihat dunia

Postingan populer dari blog ini

Kembali (Malang, Feb 2020)

Tak usah kalian pulang ----- Konsekuenlah dengan keputusan kita apapun akibatnya. Kalian pergi tak ada yang memaksa ----- Mencari surga katamu ----- Dan apa yang didapat ya jantanlah Mungkin kalian bisa mengukir sejarah baru di tanah baru ----- diaspora Indonesia di Syam ----- Hidup baru Membangun koloni di sana Kelak akan ada anak-cucu yang  mengunjungi Indonesia, mengenang tanah nenek moyangnya. Seperti orang-orang keturunan Jawa: di Malaysia, Suriname, Perancis atau Madagaskar Romantis bukan?

Jira (Malang, 19 Juli 2005)

Bolehkah aku menikahi bayangan? Tangan-tangan Desember  melambai seperti setan Langit menjatuhkan api, tahi dan tombak-tombak Perutku makin berdarah Masihkah terus bernyanyi? Jutaan dentang piano mengurung aku Gerobak berisi tulang lewat begitu saja bersama seringaian roda-roda Seperti berkebun di pekuburan Menanam jasad da buku neraka Menenggelamkan jari-jari dalam asap-asap